Terkini

Twitter / andymse

25 February 2008

Tahun 2000

tahun duaribu tahun harapan, yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja, ayo siapkan dirimu
"siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siap"

tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin
"sungguh mengagumkan tahun duaribu
namun demikian penuh tantangan"

penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit
mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

"wahai pemuda remaja sambutlah tahun 2000 penuh semangat
dengan bekal ketrampilan, serta ilmu dan iman"

"bekal ilmu dan iman"

(Tahun 2000, Nasida Ria)

Baru-baru ini, saya mendengarkan sebuah lagu qasidah yang sudah sangat jadul. Saya mengenal lagu Tahun 2000 sudah sangat lama, ketika adik bungsu-ku masih usia TK, padahal sekarang dia sudah berkeluarga dengan 2 anak berumur 7 dan 3 tahun.

Lagu itu dinyanyikan oleh Supergrup Qasidah "Nasida Ria" dari Semarang, yang lagu superhits "Perdamaian"nya sempat dinyanyikan ulang oleh GIGI. Saya benar-benar terkesima, dan saya punya keyakinan 100% bahwa penuls lagu qasidah "Tahun 2000" adalah orang yang jenius dan futuristic.
Bagaimana tidak???
Lagu itu, seingat saya populer sekali di pertengahan dekade 80-an. Artinya kira-kira 15 tahun sebelum tahun 2000. Akan tetapi, penulis sangat cerdas meramalkan apa yang terjadi pada tahun 2000, walaupun kenyataannya sedikit melenceng, mundur kira-kira 5 tahun.

Coba kita cermati bait demi bait lagu itu.

tahun duaribu kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin

Kalau kita lihat sekarang, pekerjaan kita banyak sekali dibantu mesin. Mulai dari mesin pertukangan, sampai laptop yang setia bersanding membantu kelancaran kerja. Bepergian dengan berjalan kaki atau naik kereta kuda sudah sangat ketinggalan. Bayangkan, hanya dengan Rp. 500.000 saja sudah bisa membawa pulang sebuah sepedamotor baru. Mesin lah yang membawa kita berjalan dan berlari, bahkan dengan kecepatan yang luarbiasa. Tidak hanya itu. Sehari-hari pun kita tidur berkawan mesin, mulai dari kipas angin, air conditioner, handphone yang selalu standby di sisi kita, sampai bangun tidur pun harus diingatkan oleh alarm. Ketika ingin makan dan minum, kulkas, magic com, oven microwave, dan peralatan dapur lain yang serba canggih siap melayani kita sehingga makanan dapat disiapkan lebih cepat, tetap segar dan bergizi.

penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit, mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela

Yang ini lebih jelas, semakin banyak penduduk tentu saja membutuhkan tempat yang semakin banyak, akhirnya karena tak ada tempat lagi, mulailah menggusur sawah dan ladang tanpa menyadari bahwa sawah dan ladang adalah pemasok kebutuhan pangan. Dengan banyaknya industri modern penyedia kebutuhan manusia, kebutuhan tenaga manusia untuk dipekerjakan semakin berkurang karena banyak hal tergantikan oleh mesin yang lebih efisien dan teliti, walaupun mesin tidak dapat berfikir. Tentu saja karena pola padat karya berganti menjadi padat hasil dan padat laba, pengangguran pun merajalela. Benar kan?

sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas akibat pencemaran

Yang terakhir ini yang paling mengagumkan. Kesadaran penulis "Tahun 2000" akan kelestarian lingkungan ternyata jauh lebih maju. Lima belas tahun sebelum Y2K, beliau telah menggagas, jauh sebelum dunia sadar dan menggelar Konferensi Pemanasan Global.


The Deathly Hallows

(from "The Tales of Beedle the Bard")
THE TALES OF THE THREE BROTHERS

"There were once three brothers who were traveling along a lonely, winding road at twilight--
In time, the brothers reached a river too deep to wade through and too dangerous to swim across. However, these brothers were learned in the magical arts, and so they simply waved their wands and made a bridge appear across the treacherous water. They were halfway across it when they found their path blocked by a hooded figure.

And Death spoke to them. He was angry that he had been cheated out of the three new victims, for travelers usually drowned in the river. But Death was cunning. He pretended to congratulate the three brothers upon their magic, and said that each had earned a prize for having been clever enough to evade him.
So the oldest brother, who was a combative man, asked for a wand more powerful than any in existence: a wand that must always win duels for its owner, a wand worthy of a wizard who had conquered Death! So Death crossed to an elder tree on the banks of the river, fashioned a wand from a branch that hung there, and gave it to the oldest brother.
Then the second brother, who was an arrogant man, decided that he wanted to humiliate Death still further, and asked for the power to recall others from Death. So Death picked up a stone from the riverbank and gave it to the second brother, and told him that the stone would have the power to bring back the dead.
And then Death asked the third and youngest brother what he would like. The youngest brother was the humblest and also the wisest of the brothers, and he did not trust Death. So he asked for something that would enable him to go forth from that place without being followed by Death. And Death, most unwillingly, handed over his own Cloak of Invisibility.
Then Death stood aside and allowed the three brothers to continue on their way, and they did so talking with wonder of the adventure they had had and admiring Death's gifts.
In due course the brothers separated, each for his own destination.
The first brother traveled on for a week more, and reaching a distant village, sought out a fellow wizard with whom he had a quarrel. Naturally, with the Elder Wand as his weapon, he could not fail to win the duel that followed. Leaving his enemy dead upon the floor the oldest brother proceeded to an inn, where he boasted loudly of the powerful wand he had snatched from Death himself, and of how it made him invincible.
That very night, another wizard crept upon the oldest brother as he lay, wine-sodden upon his bed. The thief took the wand and for good measure, slit the oldest brother's throat.
And so Death took the first brother for his own.
Meanwhile, the second brother journeyed to his own home, where he lived alone. Here he took out the stone that had the power to recall the dead, and turned it thrice in his hand. To his amazement and his delight, the figure of the girl he had once hoped to marry, before her untimely death, appeared at once before him.
Yet she was sad and cold, separated from him as by a veil. Though she had returned to the mortal world, she did not truly belong there and suffered. Finally the second brother, driven mad with hopeless longing, killed himself so as to truly join her.
And so Death took the second brother from his own.
But though Death searched for the third brother for many years, he was never able to find him. It was only when he had attained a great age that the youngest brother finally took off the Cloak of Invisibility and gave it to his son. And the he greeted Death as an old friend, and went with him gladly, and, equals, they departed this life."

--o--

"Asyik kan ceritanya???..."
"Cerita di atas diambil dari Harry Potter and The Deathly Hallows versi Bahasa Inggris.
Inti ceritanya tentang tiga pusaka dalam dunia sihir. Dalam cerita dongeng itu, disampaikan petuah untuk anak-anak agar tidak takabur, sombong, dan selalu rendah hati.

The Deathly Hallows,adalah:
•The Elder Wand yaitu Tongkat Sihir Takdir atau Tongkat Sihir Maut
•The Resurrection Stone yaitu Batu Kebangkitan
•The Cloak of Invisibility yaitu Jubah Gaib.

Di dunia sihir-nya J.K. Rowling, dongeng itu digunakan untuk menggambarkan secara tersirat keberadaan tiga pusaka dari Antioch, Cadmus dan Ignotus Peverell. Siapapun yang memiliki ketiga pusaka itu mempunyai kekuatan untuk menakhlukkan kematian.

Dalam versi berbahasa Indonesia, The Deathly Hallows diterjemahkan menjadi “Relikui Kematian”.

Ingin tahu cerita dalam bahasa Indonesia??? Simak saja berikut ini…"

Dari “Kisah-kisah Beedle si Juru Cerita”
KISAH TIGA SAUDARA

“Pada zaman dahulu ada tiga saudara, kakak beradik laki-laki, yang berkelana melewati jalan berliku-liku di senja hari--.
Pada waktunya, ketiga saudara ini telah tiba di sungai yang terlalu dalam untuk diseberangi dengan berjalan kaki dan terlalu berbahaya untuk diseberangi dengan berenang. Meskipun demikian, ketiga saudara ini menguasai ilmu sihir, maka mereka tinggal melambaikan tongkat sihir mereka dan sebuah jembatan muncul di atas air yang berbahaya itu. Mereka sudah tiba di tengah jembatan ketika ternyata jalan mereka dihalangi oleh sosok berkerudung.
Dan Kematian berbicara kepada mereka—
Dia marah karena kehilangan tiga korban baru, karena para pengelana biasanya tenggelam di sungai. Tetapi Kematian licik. Dia berpura-pura memberi selamat kepada ketiga saudara ini atas sihir mereka, dan berkata masing-masing berhak mendapatkan hadiah karena telah cukup pintar untuk menghindarinya.
Maka si sulung, yang suka bertempur, meminta tongkat sihir yang lebih hebat daripada semua tongkat sihir yang ada; tongkat sihir yang harus selalu memenangkan duel bagi pemiliknya, tongkat sihir yang layak diterima penyihir yang telah mengalahkan Kematian!. Maka Kematian menyeberang ke sebatang pohon elder di tepi sungai, membuat tongkat sihir dari dahan yang menggantung di sana, dan memberikannya kepada si sulung.
Kemudian si tengah, orang yang sombong memutuskan dia ingin mempermalukan Kematian lebih jauh lagi, dan meminta kekuatan untuk memanggil yang lain dari Kematian. Maka Kematian memungut sebutir batu dari tepi sungai dan memberikannya kepada si tengah, dan memberitahukannya bahwa batu itu akan memiliki kekuatan untuk mengembalikan orang yang sudah mati.
Kemudian Kematian menanyai si bungsu, apa yang diinginkannya. Si bungsu ini yang paling rendah hati dan juga paling bijaksana di antara ketiga kakak-beradik ini, dan dia tidak mempercayai Kematian. Maka dia meminta sesuatu yang bisa membuatnya melanjutkan perjalanan dari tempat itu tanpa diikuti oleh Kematian. Dan Kematian, dengan amat sangat enggan, menyerahkan Jubah Gaib-nya sendiri kepadanya.
Kemudian Kematian menyisih dan mengizinkan ketiga kakak-beradik itu melanjutkan perjalanan mereka, dan mereka pun melanjutkan perjalanan, sambil membicarakan dengan takjub petualangan yang telah mereka alami, dan mengagumi hadiah dari Kematian.
Pada saatnya ketiga kakak-beradik ini berpisah, masing-masing menuju tujuan mereka sendiri-sendiri.
Si sulung berjalan kira-kira seminggu lagi, dan tiba di suatu desa yang jauh, mencari penyihir kenalannya, dengan siapa dia pernah bertengkar. Tentu saja, dengan Tongkat Sihir Elder sebagai senjatanya, dia tak mungkin kalah dalam duel yang terjadi. Meninggalkan musuhnya mati di lantai, si sulung menuju tempat penginapan. Di sana dia membanggakan keras-keras kehebatan tongkat sihir yang telah diperoleh dari Kematian sendiri, dan tentang bagaimana tongkat sihir itu membuatya tak terkalahkan.
Malam itu juga, seorang penyihir lain mengendap-endap mendatangi si sulung yang sedang terlelap, bersimbah anggur, di tempat tidurnya. Pencuri ini mengambil tongkat sihirnya, dan sebagai tambahan, menggorok leher si sulung.
Maka Kematian mengambil si sulung sebagai miliknya.
Sementara si tengah pulang ke rumahnya, tempat dia hidup sendiri. Dia mengeluarkan batu yang memiliki kekuatan untuk memanggil orang mati, dan memutarnya tiga kali dalam tangannya. Betapa heran dan gembiranya dia, sosok gadis yang dulu pernah diharapkannya untuk dinikahinya, sebelum gadis itu meninggal dalam usia muda, muncul seketika itu juga di hadapannya.
Meskipun demikian gadis itu sedih dan dingin, terpisah darinya seolah oleh sehelai selubung. Walaupun telah kembali ke dunia ornag hidup, dia sesungguhnya bukan bagian dari dunia ini dan menderita. Akhirnya si tengah, menjadi gila karena kerinduan yang sia-sia, membunuh diri supaya bisa benar-benar bergabung dengan gadis itu.
Maka Kematian mengambil si tengah sebagai miliknya.
Namun, meski Kematian mencari si bungsu selama bertahun-tahun, dia tak pernah berhasil menemukannya. Barulah ketika telah mencapai usia sangat lanjut, si bungsu membuka Jubah Gaib-nya dan memberikannya kepada anak-laki-lakinya. Dan kemudian dia menyalami Kematian sebagai teman lama, dan pergi bersamanya dengan senang, dan sebagai teman sederajat, mereka meninggalkan kehidupan ini.
--o--

Dikutip dari “Harry Potter and The Deathly Hallows” J.K. Rowling, Warner Bross Entertainment Inc, 2007.

Kutipan bahasa Indonesia dari “Harry Potter dan Relikui Kematian”, alih bahasa; Listiana Srisanti, PT Gramedia Pustaka Utama, Januari 2008.